Efek putus zat narkoba, atau withdrawal syndrome, tidak hanya memengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga berdampak signifikan pada kesehatan mental. Ketika seseorang menghentikan atau mengurangi penggunaan narkoba secara tiba-tiba, tubuh dan otak mengalami perubahan drastis yang dapat memicu berbagai gangguan mental dan emosional. Gejala ini sering kali menjadi tantangan besar dalam proses pemulihan dari kecanduan. Artikel ini akan membahas secara detail efek putus zat narkoba pada kesehatan mental, mulai dari gangguan kecemasan, depresi, hingga risiko psikosis, serta jenis narkoba yang paling sering menyebabkan masalah mental selama fase withdrawal.
Gangguan Kecemasan dan Serangan Panik
Kecemasan adalah salah satu gejala mental yang paling umum dialami selama efek putus zat narkoba. Berikut adalah penjelasan lebih detail:
- Penyebab Kecemasan
- Penghentian zat seperti alkohol, benzodiazepin, atau opioid dapat menyebabkan ketidakseimbangan kimia otak, terutama pada neurotransmitter seperti GABA dan serotonin, yang berperan dalam mengatur suasana hati.
- Tubuh yang sebelumnya bergantung pada zat tersebut untuk merasa tenang tiba-tiba harus beradaptasi tanpa bantuan zat tersebut.
- Gejala Kecemasan
- Perasaan gelisah, khawatir, atau takut yang berlebihan.
- Serangan panik, yang ditandai dengan detak jantung cepat, berkeringat, dan perasaan seperti akan pingsan.
- Kesulitan berkonsentrasi atau merasa terus-menerus waspada.
- Jenis Narkoba yang Memicu Kecemasan
- Benzodiazepin: Penghentian obat penenang ini sering kali menyebabkan kecemasan parah dan serangan panik.
- Alkohol: Efek putus alkohol dapat memicu kecemasan berat, terutama pada individu yang sudah memiliki riwayat gangguan kecemasan.
- Stimulan: Penghentian kokain atau amfetamin dapat menyebabkan kecemasan dan kegelisahan yang intens.
Depresi dan Pikiran Bunuh Diri
Depresi adalah dampak serius lain dari efek putus zat narkoba. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut:
- Penyebab Depresi
- Penghentian zat seperti opioid atau stimulan dapat menyebabkan penurunan kadar dopamin dan serotonin, neurotransmitter yang berperan dalam mengatur perasaan bahagia dan motivasi.
- Tubuh yang sebelumnya terbiasa dengan “tinggi” dari zat tersebut tiba-tiba harus berfungsi tanpa stimulasi tersebut.
- Gejala Depresi
- Perasaan sedih, putus asa, atau hampa yang berkepanjangan.
- Kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya dinikmati.
- Perubahan pola tidur, seperti insomnia atau tidur berlebihan.
- Pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri.
- Jenis Narkoba yang Memicu Depresi
- Opioid: Penghentian heroin atau morfin sering kali menyebabkan depresi berat dan kelelahan ekstrem.
- Stimulan: Penghentian kokain atau amfetamin dapat memicu “crash” emosional, yang ditandai dengan depresi dan kelelahan.
- Ganja: Meskipun efek putus ganja umumnya lebih ringan, beberapa pengguna melaporkan gejala depresi selama fase withdrawal.
Langkah Penanganan Efek Putus Zat pada Kesehatan Mental
Mengatasi efek putus zat narkoba pada kesehatan mental membutuhkan pendekatan yang komprehensif. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil:
- Detoksifikasi Medis
- Detoksifikasi dilakukan di bawah pengawasan dokter untuk memastikan gejala withdrawal dapat dikelola dengan aman.
- Dokter mungkin meresepkan obat untuk mengurangi gejala kecemasan, depresi, atau psikosis.
- Terapi Psikologis
- Terapi Perilaku Kognitif (CBT): Membantu penderita mengidentifikasi dan mengubah pola pikir negatif yang memicu gejala mental.
- Terapi Kelompok: Memberikan dukungan dan ruang untuk berbagi pengalaman dengan orang lain yang menghadapi masalah serupa.
- Dukungan Keluarga dan Lingkungan
- Keluarga dan teman dapat memberikan dukungan emosional dan motivasi selama proses pemulihan.
- Ciptakan lingkungan yang stabil dan bebas dari zat adiktif untuk mencegah kekambuhan.
- Program Rehabilitasi
- Rehabilitasi meliputi terapi psikologis, konseling, dan dukungan kelompok untuk membantu penderita pulih secara jangka panjang.
- Program ini juga membantu penderita mengembangkan keterampilan untuk menghadapi stres dan pemicu lainnya.
- Pemantauan Berkala
- Setelah menyelesaikan rehabilitasi, penderita perlu menjalani pemantauan rutin untuk memastikan tidak terjadi kekambuhan.
- Program lanjutan seperti terapi kelompok atau konseling dapat membantu menjaga stabilitas mental dan emosional.
Kesimpulan
Efek putus zat narkoba pada kesehatan mental dapat menyebabkan gangguan serius seperti kecemasan, depresi, dan psikosis. Mengenali gejala ini dan mencari bantuan profesional adalah langkah penting untuk memastikan pemulihan yang aman dan efektif. Dengan detoksifikasi medis, terapi psikologis, dan dukungan dari lingkungan sekitar, penderita dapat mengatasi kecanduan dan menjalani kehidupan yang lebih sehat.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami efek putus zat narkoba, jangan ragu untuk mencari bantuan medis segera. Penanganan yang tepat dapat menyelamatkan nyawa dan membuka jalan menuju pemulihan yang lebih baik.

Gali Ega merupakan praktisi di bidang rehabilitasi narkoba. Berpengalaman lebih dari 4 tahun sebagai staff rehabilitasi narkoba. Aktif menulis mengenai mental health, NAPZA, antisipasi dan perawatan korban pecandu narkoba.




